Rabu, 18 Februari 2009

Bencana; Akibat Ulah Tangan Manusia

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

(QS Ar-Ruum [30]:41).

Selain untuk beribadah kepada Allah (QS Adz-Dzariyat [51]:56), manusia diturunkan ke bumi ini juga agar menjadi khalifah di bumi (kholifatul ard). Akan tetapi dua tugas di atas sesungguhnya sangat berkaitan, artinya jika manusia betul-betul melaksanakan tugasnya sebagai khalifah, maka perbuatan itu juga dinilai sebagai suatu ibadah, karena ibadah mempunyai dua makna, yaitu ibadah dalam arti sempit dan ibadah dalam arti luas.

Ibadah dalam arti sempit adalah segala bentuk ibadah yang waktu dan tata caranya telah ditentukan berdasarkan oleh Allah maupun Rasul-Nya dalam nash, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Maka tidak boleh ada penambahan-penambahan maupun pengurangan-pengurangan dalam hal ini kecuali berdasar nash, karena penambahan-penambahan dan pengurangan-pengurangan dalam hal ini disebut bid’ah. Sedangkan ibadah dalam arti luas adalah segala bentuk perbuatan yang dicintai Allah, seperti suka memberi, jujur, menghormati, dan lain-lain termasuk juga mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya juga dinilai sebagai ibadah.

Sebenarnya kata khalifah merupakan isim fa’il dari kata khalafa yang berarti pengganti. Akan tetapi dalam pengertian yang lebih luas, khalifah berarti pengelola bumi (alam). Sehingga tugas manusia sebagai khalifah, seperti yang telah disebutkan di atas berarti tugas untuk mengelola bumi dalam rangka menciptakan kemaslahatan bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini. Hal ini sesuai dengan pendapat sebagian mufasir dalam menafsirkan kata “khalifah” yang terdapat dalam surat Al-Baqarah[2] ayat 30.

Terhadap tugas yang demikian itu, kebanyakan dari manusia sering kali lalai. Mereka bukannya mengelola alam ini dengan baik, malahan banyak membuat kerusakan terhadapnya, seperti yang akhir-akhir ini banyak terjadi di negara kita, berupa kasus penebangan kayu secara illegal (illegal loging). Illegal logging sebenarnya sudah terjadi sejak lama tetapi baru mencuat akhir-akhir ini. Pelakunya melakukan pengrusakan hutan untuk kepentingan pribadi mereka, tanpa memikirkan kemaslahatan orang lain. Mereka lupa bahwa di dunia ini, meeka tidak hidup sendirian, melainkan berdampingan dengan orang lain. Sehingga mereka tidak berfikir apa nantinya yang akan terjadi pada masyarakat sekitar jika banyak penebangan-penebangan liar terhadap pohon-pohon di hutan.

Itu hanyalah salah satu contoh kasus saja mengenai pengrusakan lingkungan hidup oleh manusia yang akhirnya menyebabkan berbagai bencana. Padahal masih banyak lagi kasus-kasus yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup yang kemudian mengakibatkan terjadinya bencana. Karena banyaknya kasus-kasus itulah barangkali Allah SWT memberikan peringatan berupa adzab kepada bangsa Indonesia dengan berbagai bencana, seperti kelaparan, banjir, longsor yang banyak mengakibatkan kerugian baik itu berupa nyawa manusia maupun kerusakan terhadap harta benda yang tidak terhitung jumlahnya. Bisa jadi bencana-bencana itu merupakan kemarahan Allah terhadap kita, hamba-Nya yang membangkang terhadap perintah-Nya.

Banyaknya kemaksiatan-kemaksiatan juga dapat menyebabkan ditimpakannya adzab Allah. Karena banyak fakta yang membuktikan akan hal itu, seperti umat Nabi Luth As yang ditenggelamkan ke dalam tanah karena mereka melakukan perbuatan homoseksual, umat Nabi Nuh As yang ditimpakan air bah yang sangat besar karena kedurhakaan mereka, dan banyak lagi kisah-kisah lainnya yang menunjukkan akan hal itu. Dan jika pada suatu daerah masyarakatnya banyak yang membangkang kepada-Nya, maka niscaya orang-orang yang tidak bersalahpun juga akan terkena adzab-Nya.

Agar Allah SWT tidak murka, maka kita harus selalu menjalankan perintah-Nya, termasuk menjaga alam ini. Karena dalam banyak ayat, Allah SWT telah menganjurkan agar kita betul-betul memanfaatkan alam ini dengan sebaik-baiknya, menggunakannya untuk kemaslahatan seluruh makhluk hidup, serta tidak membuat kerusakan terhadapnya. Salah satunya adalah firman Allah SWT dalam surat Al-A’raf [7] ayat 56 dan 85 yang artinya, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakannya dengan baik”.

Bencana Alam Akibat Modernisasi

Modernisasi juga banyak mengakibatkan terjadinya kerusakan alam yang nantinya juga akan berakibat terjadinya bencana alam. Seperti industrialisasi, penambangan, pertanian dan lain sebagainya. Akibat kegiatan itu merebahlah berbagai penyakit yang membahayakan. Suatu contoh, kasus teluk buyat yang masyarakat di sekitarnya terkena suatu penyakit diakibatkan oleh tercemarnya air laut oleh limbah pabrik dari PT Newmon.

Sebenarnya Islam tidak melarang manusia untuk selalu mengembangkan teknologi. Bahkan Islam menganjurkan akan hal itu, karena Allah memberikan akal kepada manusia untuk selalu berfikir sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Akan tetapi yang jadi masalah, dengan kemajuan teknologi itu manusia sering melupakan tehadap dampak terhadap lingkungan sekitar. Pembuangan limbah yang sembarangan dapat merugikan lingkungan. Sekali lagi perlu diingat bahwa Islam mendukung akan kemajuan teknologi, tetapi perlu diingat pula bahwa manusia di dunia ini tidak hidup sendirian melainkan berdampingan dengan masyarakat lain yang berhak atas keselamatan dan kenyamanan hidup.

Merebahnya penyakit-penyakit berbahaya, semacam kanker, dewasa ini juga diakibatkan oleh efek negatif dari modernisasi, utamanya alih teknologi, yaitu banyaknya penggunaan CFC, seperti lemari es yang menyebabkan menurunnya kadar ozon di stratosfer sehingga sinar ultra violet banyak yang langsung mengenai bumi karena tidak terlebih dahulu mengenai ozon. Dengan demikian diperlukan adanya pembatasan tertentu dalam penggunaan teknologi modern yang selain mampu menunjang kehidupan manusia, juga mampu menjamin keselaran hubungan manusia dan lingkungan.

Pendidikan Sebagai Solusi

Rasa-rasanya banyaknya perusakan-perusakan terhadap alam di negari ini kita sudah menjadi suatu budaya yang sangat sulit untuk dihentikan. Bahkan hukuman berupa punishment dari negara sudah tidak lagi membuat pelakunya jera akan perbuatan tersebut. Sulit memang, tetapi bukan berarti tidak bisa. Pendidikan merupakan alternatif untuk merubah budaya tersebut, walaupun memerlukan waktu yang panjang untuk merubah budaya tersebut.

Pendidikan yang dimaksud di sini bukan dalam artian hanya berupa pendidikan formal dalam sekola ataupun perguruan tinggi, melainkan termasuk juga pendidikan-pendidikan informal, seperti penyuluhan-penyuluhan, pengajian-pengajian dan lain sebagainya. Karena sebenarnya baik agama maupun Negara sama-sama menganjurkan bahkan mengharuskan agar kita selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, peran para da’I sangat penting sekali dalam mewujudkan hal ini. Mereka hendaklah selalu mengingatkan kepada masyarakat dalam da’wahnya untuk senantiasa memelihara lingkungan hidup, karena memelihara lingkungan hidup merupakan tugas pokok manusia terhadap bumi ini, dan Allah melaknat orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini.

Dalam al Qur’an telah disebutkan bahwa telah nyata-nyata kerusakan di bumi, baik di daratan maupun lautan karena ulah tangan manusia. Maka membentuk kesadaran akan tanggung jawab manusia dalam memelihara alam ini sangat penting, dan kalau ini berhasil, maka insya Allah bencana yang melanda bumi pertiwi kita akan berkurang. Tapi ingat juga bahwa bencana yang terjadi selama ini bisa juga karena banyak merajaleanya kemaksiatan di sana sini, yang menyebabkan kemurkaan Allah.

Jadi bila di negari ini sering terjadi bencana, yang tentunya sangat menghambat pertumbuhan pembangunan serta membuat resah masyarakat khususnya para korban, maka sudah seharusnya kita mengintrospeksi diri kita atas apa yang telah kita perbuat, sehingga berbagai bencana tidak henti-hentinya melanda. Bisa jadi banyaknya maksiat yang kita lakukan membuat Allah SWT marah dan menimpakan adzab. Atau kita sendirilah penyebab terjadinya bencana tersebut akibat perusakan alam yang selama ini kita lakukan. Wallahu a’lamu bish showab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar apapun, disini merupakan free discussion area...sumonggo